- Kelainan hipospadia menyebabkan Serda Aprilia Manganang tercatat sebagai perempuan di akte lahir dan KTP-nya. Namun kini ia telah dipastikan sebagai seorang pria dan menjalani operasi karenanya.
In Depth: Mengenal Hipospadia, Kondisi yang Bikin Aprilia Manganang Baru Dikonfirmasi Jadi Pria
In Depth: Mengenal Hipospadia, Kondisi yang Bikin Aprilia Manganang Baru Dikonfirmasi Jadi Pria
10/03/2021 11:59:09
WowKeren - Kisah eks atlet voli putri Indonesia, Serda TNI Aprilia Manganang tengah menjadi pembahasan panas. Sebab serda yang direkrut lewat jalur Bintara berprestasi tersebut baru-baru ini dikonfirmasi sebagai laki-laki dengan kelainan hipospadia dan tengah menjalani corrective surgery untuk mengatasinya.
Kelainan itu membuat Manganang diidentifikasi sebagai perempuan sejak lahir. Namun setelah menjalani pemeriksaan medis, baik dari segi organ hingga hormon reproduksinya ternyata lebih merujuk sebagai laki-laki meski ada sedikit kelainan.
Namun sebenarnya, kondisi apakah hipospadia tersebut? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
1. Definisi dan Gejala
Pixabay
Melansir laman resmi Mayo Clinic, hipospadia adalah kelainan klinis pada bayi yang baru lahir, di mana lubang uretra tidak terletak di ujung penis. Uretra sendiri merupakan saluran kencing pada manusia, yang normalnya bermuara di ujung kepala penis pria.
Biasanya lubang uretra pada penderita hipospadia terletak di bagian samping, atau bahkan dalam beberapa kasus yang lebih jarang di bagian tengah hingga lebih mendekati pangkal penis. Salah satu tanda lain penderita hipospadia adalah buang air kecil yang tidak normal karena letak lubang kencing yang tidak normal.
Penelitian menunjukkan hipospadia adalah salah satu kelainan pada organ reproduksi pria yang paling sering terjadi meski persentase kasusnya cukup rendah. Studi dari Amerika Selatan mengungkap hanya kurang dari 0,1 persen kelahiran yang dikonfirmasi mengalami hipospadia dan umumnya bisa langsung ditangani dengan operasi neonatal atau segera setelah kelahiran.
2. Penyebab dan Faktor Risiko
Pixabay
Lantas apa penyebab hipospadia terjadi? Belum ditemukan penyebab pastinya, namun yang jelas kegagalan pembentukan organ reproduksi ini merupakan efek dari aktivitas hormon yang kurang baik selama proses pertumbuhan janin.
Banyak yang mengaitkan hipospadia dengan genetik, di mana keluarga dengan pasien hipospadia biasanya menurunkan kemungkinan yang sama besar kepada anaknya. Genetik juga berpengaruh lantaran bisa mengganggu produksi hormon yang berperan penting dalam pembentukan organ reproduksi pria selama masa kehamilan.
Sementara faktor eksternal pun disebut-sebut juga berpengaruh terhadap risiko terjadinya hipospadia. Misalnya saja kehamilan di atas usia 35 tahun yang diduga meningkatkan peluang sang janin mengalami hipospadia.
Lalu ibu hamil dengan obesitas dan diabetes, atau yang sebelumnya menjalani terapi hormon juga sangat berpeluang melahirkan anak dengan hipospadia. Bayi yang dilahirkan prematur juga berisiko mengalami hipospadia karena masa pembentukan organ yang belum cukup. Hingga adanya paparan asap rokok serta pestisida saat hamil yang juga berpotensi menyebabkan hipospadia pada janin.
3. Cara Menyembuhkan dan Mencegah
Pixabay
Namun seperti sudah disinggung sebelumnya, penyembuhan hipospadia sebenarnya cenderung mudah. Jika posisi lubang kencing sangat dekat dari posisi seharusnya, serta bentuk penis tidak melengkung, maka tidak diperlukan penanganan lebih lanjut. Namun operasi sangat mungkin dilakukan jika lubang kencing terletak terlalu jauh dari posisi normal.
Idealnya operasi dilakukan ketika bayi masih berusia 6-12 bulan. Sebab jika tidak segera ditangani, hipospadia dapat menimbulkan masalah berkemih pada anak serta mengganggu aktivitas seksualnya ketika dewasa nanti.
Kendati demikian, ada cara-cara sederhana untuk mengurangi risiko hipospadia pada janin, yang sejatinya lebih dititikberatkan kepada ibu hamil. Seperti menghindari merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
Lalu ibu hamil juga sebaiknya mengonsumsi suplemen asam folat sesuai anjuran dokter. Ibu hamil juga sebaiknya mempertahankan berat badan idealnya hingga rutin berkonsultasi dengan dokter kandungan demi memeriksakan kemungkinan-kemungkinan terburuk pada janin.
4. Kasus Lain
Instagram/tni.ad/manganang92
Aprilia Manganang sendiri bukan satu-satunya kasus hipospadia di dunia. Manganang saat ini tengah menunggu prosedur bedah keduanya terkait dengan kelainan tersebut.
Sementara seorang remaja 12 tahun di Hardoi, India, harus menjalani operasi sampai 8 kali namun gagal. Kendati demikian, dilaporkan Hindustan Times, sang remaja akhirnya berhasil dioperasi di King George's Medical University di Lucknow.
Kemudian ada pula pria di Inggris yang baru mengetahui kondisi hipospadianya saat berusia 62 tahun. Lalu seorang aktivis dan psikolog seks Amerika Serikat, Tiger Devore, juga mengalami hal serupa hingga harus menjalani operasi 20 kali dan 4 rekonstruksi agar bisa kembali normal.