- Di usianya yang menginjak 16 tahun, Cornellius Deva Suhartono tidak ragu untuk mendirikan brand clothing yang diberi nama KINE. Usia muda bukan menjadi halangan...
Baca juga: Ingin Obati Autoimun, Ashanty Malah Ketahuan Idap Penyakit Lain
Tidak seperti kebanyakan remaja seusianya, yang memilih bermain game selama pandemi Covid-19. Cornel, yang merasa penat dengan beraktivitas di rumah saja, memilih untuk merealisasikan ide bisnisnya di dunia cloting. Menariknya lagi, remaja 16 tahun itu pun mengawali bisnisnya dengan tabungannya sendiri.

Baca Juga:
Cornel memilih fashion sebagai bisnis yang digeluti juga tidak hadir begitu saja, dia pun memiliki alasan tersendiri. "Jadi, dari dulu aku suka banget sama fashion, dan waktu aku kelas 7, aku dikasih proyek sama sekolah untuk buat baju. Aku pada waktu itu main-main. Enggak bikin bisnis tapi ya, aku bikin baju," ungkap Cornel ketika ditemui di Jakarta, belum lama ini.
"Nah, sudah tahu prosesnya kan, gimana di grosir, bernegosiasi. Terus, aku dapet baju-baju. Aku jualnya enggak jual bisnis kayak gitu. Tapi aku jualnya ke temen deket doang. Tapi karena waktu itu aku tidak serius, aku tidak melanjutkankan, karena waktu itu juga untuk proyek sekolah," sambungnya.

Sedangkan pemilihan KINE sebagai nama brand, Cornel memberikan penjelasan yang cukup unik. "Clothing itu kan main sama kain-kain, jadi kata-kata 'kain' aku ganti jadi 'kine'. Jadi kalau nanti produknya ke luar negeri, orang Inggris nyebutinnya 'kine', jadi (terdengar) 'kain'. Tapi kalau kata 'kain' jadi 'kein'," jelas Cornel.
Dengan berbagai pilihan koleksi seperti kemeja flanel, hoodie, hingga t-shirt, yang semuanya didesain sesuai selera anak muda, Cornel optimistis produknya tersebut bisa menjamah pasar luar negeri. Dengan memiliki segmen tersendiri, Cornel juga sangat yakin jika lini koleksi KINE, yang dia desain sendiri, bisa bersaing di tengah banyaknya brand-brand clothing lainnya.
Dalam usaha clothing-nya ini, Cornel juga menggaet UMKM dalam proses penggarapannya. Seluruh desain yang telah dibuatnya akan diserahkan ke konveksi. Menurutnya, material di Indonesia tidak kalah dengan yang impor, termasuk juga para penjahitnya.

"Saya pernah punya pengalaman saat ke Singapura. Beli baju di sana harganya lumayan mahal, terus pas dibawa pulang ke Indonesia, ternyata itu bajunya dibuat Indonesia," ujar Cornel.
Guna menjangkau pembeli yang lebih luas, Cornel saat ini melakukan penjualan produk-produk KINE secara online melalui laman kinejkt.com dan akun Instagram @kinejkt. "Selama masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, kebanyakan orang-orang berbelanja secara online dibanding offline atau datang ke toko," ungkapnya.
Baca juga: Dicecar Pertanyaan Netizen, Chef Juna Nyaris Ungkap Gajinya di MasterChef Indonesia
Sementara itu, Cornel juga mengutarakan jika produk-produk KINE akan diproduksi secara limited. "Apabila sudah sold out, aku enggak mau produksi lagi," imbuhnya.

(nug)