- Sudah 12 tahun sejak 30 Desember 2009, Gus Dur meninggalkan kita semua. Namun, tokoh yang bernama KH Abdurrahman Wahid itu senantiasa hadir di hati dan pikiran.
30/12/2021 19:48:56
SUDAH 12 tahun sejak 30 Desember 2009, Gus Dur meninggalkan kita semua. Namun, tokoh yang bernama KH Abdurrahman Wahid itu senantiasa hadir di hati dan pikiran banyak gugusan warga bangsa ini. Persis seperti maksim Arab berikut: man ahabba syai’an fa katsura dzikruhu. Terjemahannya begini: barang siapa yang sedang suka atas sesuatu, dia pasti akan sering menyebut-nyebutnya. Kata ”menyebut-nyebut” di sini bisa dalam pengertian menyuarakan sesuatu yang disukai secara verbal. Dan bisa pula berarti menjadikannya sebagai bagian penting yang integral dalam hidupnya, baik pribadi maupun kolektif organisasi.
Makna maksim di atas sangat kuat untuk bisa ditangkap dari kalangan pengikut Nahdlatul Ulama (NU) atas diri, pikiran, dan aksi Gus Dur. Perhelatan terbaru organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia itu, yakni Muktamar Ke-34 NU di Lampung pada 22–24 Desember lalu, menjadi bukti pembenarnya. Dua kontestan calon ketua umum saat itu, KH Said Aqil Siroj dan KH Yahya Cholil Staquf, sama-sama menjadikan Gus Dur bukan hanya sebagai inspirator perjuangan di NU. Namun juga menjadikannya sebagai tagline atas ikhtiar sosialisasi, yang dalam bahasa politik disebut kampanye, untuk memperebutkan dan meraih hati muktamirin.
Jika Kiai Said membangun tagline berbunyi ”Melanjutkan Perjuangan Gus Dur”, Gus Yahya (panggilan akrab KH Yahya Staquf) mengembangkan jargon ”Menghidupkan Gus Dur”. Kedua calon ketua umum PBNU waktu itu tampak sama-sama menjadikan Gus Dur sebagai tema sentral perjuangan untuk merebut hati peserta muktamar.
Kiai Said menjadikan Gus Dur sebagai simbol gerakan yang ingin dilanjutkan dalam kepemimpinan di NU. Gus Yahya menjadikan pikiran dan perilaku Gus Dur sebagai basis ideologi perjuangan dalam kepemimpinan di NU ke depan. Keduanya membangun komitmen seperti itu karena sama-sama memahami dengan baik betapa besarnya karisma Gus Dur di kalangan warga nahdliyin pada khususnya dan warga bangsa Indonesia pada umumnya.
Mengapa keduanya menjadikan Gus Dur sebagai simbol dan destinasi perjuangan? Tentu pertanyaan itu sangat menarik untuk diulas lebih jauh sekaligus untuk mengurai apa yang telah diwariskan Gus Dur bagi bangsa dan negara serta agama di Indonesia ini.
Dalam perkembangan Indonesia modern, Gus Dur telah menjadi ideolog baru di NU dan juga bangsa ini. Bukan saja dalam kaitannya dengan bagaimana memahami, memaknai, dan menerjemahkan agama di tengah fakta sosial yang tidak tunggal di Indonesia, tapi juga membangun relasi yang seimbang dan setara antara agama dan negara serta antara kekuatan masyarakat sipil dan negara.
Gus Dur dalam hidupnya mampu membangun konsep yang membuat agama dan lokalitas bukan dalam hubungan yang antagonistis. Tapi menempatkan keduanya dalam pola relasi yang komplementer (saling melengkapi). Keduanya bisa dibedakan, tapi tak bisa dipisahkan. Mirip dengan dua sisi mata uang (two sides of the same coin).
Untuk konteks negara dengan multikulturalisme yang cukup tinggi dengan semua pemangku kepentingan sosiokultural berposisi sama sebagai pemegang saham kebangsaan dan kenegaraan seperti di Indonesia ini. Pembangunan konsep relasi agama dan lokalitas yang komplementer. Juga relasi agama dan negara yang harmonis serta hubungan masyarakat sipil dan negara yang setara seperti yang dilakukan Gus Dur dalam hidupnya sangat dibutuhkan dengan baik.
Apalagi, dalam konteks peran organisasional, Gus Dur telah berkesempatan dan sekaligus mampu memainkan tiga fungsi dengan baik. Ketiga fungi dimaksud meliputi champion (pemenang), agent (pelaku aktif perubahan), dan sponsor (pelopor). Dalam perspektif tata kelola organisasi, champion berarti mereka yang percaya perubahan dan berusaha mendapatkan komitmen dan sumber daya untuk itu, tetapi mungkin tidak memiliki wewenang langsung untuk mewujudkannya. Sebagai pribadi, selama hidupnya Gus Dur sangat percaya perubahan sebagai instrumen gerak sebuah masyarakat serta mampu membangun komitmen yang kuat untuk terjadinya perubahan di tengah masyarakat melalui aksi pemberdayaan dan atau pendampingan masyarakat.
Di atas champion terdapat agent, yang berarti mereka yang diberi tanggung jawab untuk mengimplementasikan perubahan dan dievaluasi berdasar kemampuannya untuk mengimplementasikan proyek. Posisinya sebagai ketua umum PBNU selama tiga periode (1984–1989, 1989–1994, dan 1994–1999) membuat Gus Dur mampu meningkatkan perannya dari sekadar champion menjadi agent yang mengimplementasikan perubahan melalui ormas dengan jumlah pengikut terbesar ini.