- Film Aladdin terbaru menunjukkan sosok putri jasmine yang berubah cukup progresif. Jasmine hadir sebagai putri yang memiliki keinginan menjadi Sultan
31/05/2019 00:35:16
TEMPO.CO, Jakarta -Anak-anak penonton Aladdin dalam kemasan animasi di tahun 1992, tentunya sudah menjadi orang dewasa kala produksi ulang dalam bntuk live action-nya tayang di bioskop tahun ini.
Dan mereka mungkin masih hapal soal Jasmine, tokoh putri yang terkungkung dalam istana dan hanya bisa mengendap, menyamar untuk bisa melihat dunia luar tetap ada dalam film terbaru kini. Namun rupanya berbeda motif. Dahulu, Jasmine hanya seorang putri yang tinggal di istana megah dan menjalani nasib dipinang seorang pangeran.
Kini, di tahun 2019 salah satu kisah dari dongeng 1001 malam itu berkembang. Peyamaran Jasmine di luar istana punya motif lebih kuat. Ia ingi melihat kondisi rakyatnya langsung. Ia ingin melihat interaksi, keseharian dan kehidupan di Agrabah. Jasmine, ingin menjadi penerus sultan. Menggantikan ayahnya, suatu saat nanti.
Tema perempuan dengan yang punya motivasi sekuat ini rasanya tak muncul dari kisah para putri di deretan dongeng Disney yang muncul di era Putri Salju (1937), Cinderella (1950), Putri Tidur (1959). Kisah Putri Salju, Cinderella, Putri Tidur erat dengan tema perempuan yang lemah dan perlu diselamatkan sosok pangeran.
Lantas kisah mulai berubah saat kisah Putri Ariel dalam The Little Mermaid hadir pada 1989. Seorang putri dari kerajaan laut yang punya motif untuk berubah jadi manusia demi pangeran yang ia cintai dengan konsekuensi meninggalkan istana, kehilangan suara, bahkan nasib saat menjalani kehidupan di dunia baru. Atau kisah Si Cantik dan Buruk Rupa yang lahir dua tahun setelahnya. Sosok Belle, merupakan seorang perempuan yang akrab dengan buku dan ilmu pengetahuan. Dalam film ini, Belle menjadi penyelamat seorang pangeran yang dikutuk. Tapi tetap saja, konteksnya soal menemukan cinta sejati.
Karakter putri yang berubah dan menjadi lebih kuat makin terasa dari sosok Poccahontas (1995) dan Mulan (1998). Perempuan-perempuan yang menunjukkan kemandirian dan jauh lebih indipenden. Lebih lagi, terwakili dua sosok ini, putri-putri Disneyland tak lagi milik orang kulit putih. Poccahontas mewakili perempuan Indian, suku asli Amerika. Mulan, perempuan Jepang yang masuk ke medan perang mewakili perempuan Asia.
Perlahan kisah para putri Disney melangkah lebih jauh dari sekadar kisah perempuan yang lemah, ditindas, dan diselamatkan pangeran tampan untuk mencapai kebahagiaan. Menjadi perempuan-perempuan kuat, punya motivasi dalam hidupnya, punya kendali atas pilihan hidup, dan berani masuk dalam ranah kepemimpinan.
Putri-putri yang lahir berikutnya kian beragam. Tak hanya sosok putri kutilang (kurus, tinggi, langsing), tak hanya putri berkulit putih, juga bukan putri yang sopan dan senantiasa berlemah lembut (lihat Anna dalam Frozen, Rapunzel, Tiana dalam The Princess and The Frog, atau Merida dalam Brave), dan bukan cuma putri yang mengharapkan cinta sejati dan jaminan bahagia selamanya.
Ketika kisah 27 tahun lalu dapat kesempatan diproduksi kembali, maka itu menjadi momen tersendiri untuk menghadirkan seorang putri yang lebih progresif. Jasmine, dimunculkan menjadi putri yang punya asa menjadi pemimpin melawan stereotip gender dalam kultur negerinya.
Di luar perubahan karakter yang cukup signifikan, kisah Aladdin (2019) merupakan kisah yang segar secara keseluruhan. Disney tak mau berjudi atas kesuksesan animasi yang kuat dengan lagu dan karakter yang masih diingat banyak orang sampai saat ini.
Lagu-lagu tema orisinil diaransemen dengan baik. Komposer langganan Oscar, Alan Menken dilibatkan untuk menghidupkan kisah dari timur tengah ini.
Dongeng 1001 Malam hidup penuh warna. Pemilihan tokoh rasanya juga cukup mewakili karakter Aladdin (Mena Massoud) dan Jasmine (Naomi Scott) yang kita kenal selama ini, dengan tambahan Jasmine yang lebih punya ketegasan dan keberanian.
Sayangnya sang Sultan tak ditampilkan menggemaskan seperti dalam kisah animasi. Sultan menajdi raja yang tinggi besar dan terlampau serius. Demikian dengan Jafar yang digambarkan tua nan licik, kini jauh lebih muda diperankan Marwan kenzari.
Ah ya, Ginnie, si jin biru yang diperankan Will Smith tentu tak bisa diabaikan. Pemilihan Will Smith tak lepas dari skeptis para pecinta Ginnie yang lebih dulu karakternya dibawakan mendiang Robin Williams yang melegenda. Will Smith sama sekali tak mengecewakan. Ia menjadi jin yang sangat menyenangkan. Lucu, atraktif. Lihat saja saat dirinya memperkenalkan diri pertama kali di hadapan Aladdin di dalam goa lewat nyanyian, juga saat membawa rombongan gigantik pangeran Ali untuk melamar Jasmine.
Sisanya tak ada yang banyak berubah dari cerita Aladdin yang kita kenal saat kecil. Hanya saja pada bagian Jafar menguasai Ginnie dan berupaya mendapatkan kekuasaan yang ia inginkan terlalu dikemas buru-buru.
Disney sepertinya memberi ruang besar untuk bernostalgia terutama lewat A Whole New World yang dinyanyikan Aladdin dan Jasmine pada suatu malam, menikmati Agrabah dari atas karpet ajaib. Lagu yang semula dinyanyikan Lea Salonga, dan Brad Kane, kini disenandungkan Zayn Malik and Zhavia Ward.
“A whole new world (A whole new world). That's where we'll be (That's where we'll be). A thrilling chase. A wondrous place. For you and me…”
Aladdin (2019)
Sutradara: Guy Ritchie
Produser: Dan Lin, Jonathan Eirich
Naskah: John August, Guy Ritchie berdasarkan Disney's Aladdin oleh Ron Clements, John Musker, Ted Elliott, Terry Rossio( Aladdin dan Lampu Ajaib dalam kisah Negeri 1001 Malam)
Pemain: Will Smith, Mena Massoud, Naomi Scott, Marwan Kenzari, Navid Negahban, Nasim Pedrad, Billy Magnussen,
Musik: Alan Menken
AISHA SHAIDRA