LOGO

News

Review 4 Mantan: Ketika Putus Cinta Menjadi Mengerikan

Review 4 Mantan: Ketika Putus Cinta Menjadi Mengerikan

2020-02-20 00:00:00.0000000
4 Mantan memiliki tokoh-tokoh yang unik dan menarik untuk ukuran film thriller berbalut percintaan.
  • 4 Mantan memiliki tokoh-tokoh yang unik dan menarik untuk ukuran film thriller berbalut percintaan.

Apakah sobat nonton mengenal istilah “whodunit”? Gaya penceritaan ini sering dipakai untuk menjelaskan sebuah kisah misteri yang memiliki kompleksitas serta kuat akan plot, di mana pelakunya tidak disebutkan sama sekali hingga akhir kisah. Film 4 Mantan yang disutradarai oleh Hanny R. Saputra ini merupakan salah satu kisah misteri yang mengambil gaya penceritaan “whodunit” tersebut, di mana artinya film ini sudah pasti akan lebih kuat terhadap cerita dan plot ketimbang unsur lainnya, seperti adegan aksi misalnya.

Menonton film tipikal “whodunit” yang harus menebak pelaku seperti ini jelas lebih seru jika dari awal pelakunya tetap dibiarkan menjadi misteri. Formulanya pasti di akhir akan disimpulkan, jadi sepanjang film sobat nonton diharuskan untuk menebak-nebak siapa pelakunya. Oleh karena itu, skenario sangat penting untuk membangun plot. Apakah itu deceiving plot (alur yang menipu penonton), ataukah hidden clue yang bertebaran di sepanjang film.

Film 4 Mantan sendiri bercerita tentang Sara (Ranty Maria), Airin (Melanie Berentz), Rachel (Melayu Nicole), dan Amara (Denira Wiraguna). Mereka berempat adalah mantan kekasih Alex (Jeff Smith) dan memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Keempat wanita tersebut dipertemukan tanpa sengaja dengan suasana yang canggung ketika suatu peristiwa, yakni kematian Alex. Namun, ada suatu hal yang sangat mengejutkan ketika keempat mantan kekasih Alex tadi masing-masing mendapatkan sebuah surat misterius. Surat tersebut memberi indikasi bahwa salah satu di antara mereka adalah pelaku pembunuhan Alex.

Setelah Alex meninggal, mereka pun bertemu di suatu tempat dan saling mencurigai satu sama lain. Selain itu, rupanya banyak teror yang tiba-tiba menghampiri mereka, mulai dari orang yang berpakaian serba hitam hingga orang yang membawa pisau. Salah satu dari mereka ada yang beranggapan bahwa surat dari mantannya tersebut adalah prank dari seseorang yang tidak dikenal. Lalu, siapakah sebenarnya pembunuh Alex?

Sebagai sebuah kisah “whodunit”, film ini tentunya punya keunikan tersendiri. Kita akan dituntun untuk mempelajari motif masing-masing karakter. Selain itu, kita akan diperlihatkan bahwa masing-masing dari mereka memiliki kesempatan untuk membunuh, lalu ada tokoh yang dijadikan red-herring alias dibangun sebagai tersangka utama dan cerita akan terbangun ke false resolusi bahwa bukan dialah pelakunya. Dengan kata lain, film akan menunjukkan tokoh-tokoh yang punya kesempatan tapi mereka tampak tak bersalah sampai ada bukti-bukti yang semakin banyak terungkap. Film 4 Mantan berjalan dengan formula tersebut. Sedari awal kasus, kita sudah ditetapkan bahwa semua orang punya motif. Jadi sejak awal kita tahu mereka semua memiliki narasi atau sudut pandang yang tidak bisa dipercaya. Film ini seperti merekonstruksi genre “whodunit” pada umumnya.

Film 4 Mantan juga turut memberikan berbagai trivia dan easter eggs terkait pop culture, konflik serta isu sosial yang setidaknya tengah terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini seperti kekerasan pada anak hingga kekerasan seksual yang disampaikan secara tersurat maupun tersirat, pun disajikan dengan cara yang luwes dan mudah dimengerti. Jangan khawatir filmnya jadi terlalu berbau sosial, karena Hanny R. Saputra memastikan sentralnya tetap “whodunit”. Dan naskahnya benar-benar cerdik mengecoh apapun ekspektasi penonton mengenai sesuatu dan seseorang. Penyampaian plot yang penuh misteri, tetapi pintar dan tidak memaksa merupakan hal yang bisa diacungi jempol, dan berhasil menjadikan 4 Mantan sebagai film yang layak untuk ditonton.

Hanny R. Saputra memilih struktur yang membutuhkan banyak eksposisi dalam menceritakan kasusnya. Kita masuk saat kasus terjadi, tanpa mengenal dahulu siapa tokoh-tokohnya. Sejalannya cerita, barulah kita dibawa bolak-balik sesuai perspektif tokoh-tokohnya. Eksposisi ini dihandle dengan baik berkat tokoh-tokoh yang unik dan menarik, selain sedap dipandang secara fisik tentunya. Bolak-balik waktunya juga dilakukan efektif untuk alasan yang sama. Tidak ada bentrokan tone pada film ini. Dan apabila sobat nonton perhatikan, karakter-karakter di film ini sepertinya disesuaikan dengan stereotipe kekinian.

Nah, berbicara mengenai klimaks film, penonton mana pun, pasti akan menyukai bagian ini. Klimaks film yang sebenarnya akan diprediksi di bagian pertengahan dan membuat sisanya menjadi garing, tidak terbukti sama sekali. Presentasi klimaksnya lumayan berdaya kejut tinggi tanpa mencurangi, di mana tiap pengungkapan fakta, meski berusaha tampil mencengangkan, selalu mengutamakan kerapihan konstruksi cerita. Semua benih sudah ditanam secara konsisten. Hanya saja, kita tidak menyadari kalau suatu elemen yang muncul di layar adalah benih, atau menyadari tanpa tahu maksud sesungguhnya.

Dan pada akhirnya, 4 Mantan merupakan produk dari sineas yang benar-benar paham sekaligus mencintai kisah misteri pembunuhan berformula “whodunit”, lalu bersenang-senang saat membuatnya, sehingga melahirkan salah satu suguhan terasyik tahun ini yang turut menyimpan nilai hiburan tinggi. Dan semoga kedepannya, makin banyak lagi sineas-sineas lokal yang berani bermain-main di ranah genre “whodunit” ini.

Berita selanjutnya